| Hidup iniKarma CintaSaturday, 21 March 2009 > Baca lebih lanjut... | KetidakhabispikiranKembali Tak Habis Pikir Sesaat SepiSaturday, 21 March 2009 > Baca lebih lanjut... | Hidup iniCemburu HujanSaturday, 21 March 2009 > Baca lebih lanjut... |
| Intip juga yang ini.... | ||
| Payudara Besar dan Diabetes |
|
|
|
Payudara Besar Rentan Diabetes???
Seperti dimuat dalam Canadian Medical Association Journal bahwa ada kaitan antara ukuran payudara dengan risiko diabetes. Para peneliti dari Universitas Toronto dan Harvard Medical School, Kanada menganalisis kumpulan data dari sekitar 92.000 perempuan yang dilibatkan dalam Nurse's Health Study II di Amerika Serikat. Dari hasil analisis, peneliti menemukan fakta bahwa para perempuan yang memakai bra (beha) ukuran D pada usia 20 ternyata sekitar 60 persen berisiko lebih besar mengidap diabetes tipe 2, ketimbang mereka yang berukuran lebih kecil. Risiko diabetes pun tampak meningkat secara progresif seiring dengan bertambahnya ukuran payudara. Riset yang dilaporkan surat kabar Toronto Star itu juga mengungkapkan bahwa perempuan yang mencatat index massa tubuh (BMI) tinggi ditambah memiliki payudara besar saat berusia 20 berisiko 4 kali lipat mengidap diabetes tipe 2, ketimbang mereka yang mencatat BMI rendah dan payudara berukuran kecil.
Kendati masih berupa penelitian awal, kecurigaan itu patut ditindaklanjuti. Karena dalam 10 tahun terakhir ini penderita diabetes di dunia meningkat tajam. Bahkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjuluki penyakit diabetes sebagai epidemi terbesar yang akan dialami manusia pada abad ini. WHO mencatat, jumlah penderita diabetes di dunia saat ini mencapai lebih dari 230 juta jiwa. Jumlah itu diperkirakan akan terus meningkat menjadi 350 juta jiwa pada 2025.
Merujuk pada data Departemen Kesehatan 2000 disebutkan ada sekitar 8,4 juta penderita diabetes di Indonesia atau 1,9 persen dari populasi. Pada 2030 jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 21,3 juta orang atau 2,8 persen. Tak hanya jumlah penderita diabetes terbesar nomor empat di dunia, tapi jumlah orang pre-diabetes di Indonesia juga tergolong tinggi. Sidartawan mengatakan, kasus pre-diabetes mencapai 12,9 juta pada 2003. "Jumlah kasus prediabetes itu berada di urutan kelima dunia. Karena itu, jumlah prediabetes diperkirakan meningkat menjadi 20 juta pada 2025," tuturnya. Sidartawan mengemukakan, kondisi itu diperparah oleh tingkat kekerapan diabetes yang mencapai 14,7 persen. "Ternyata, di Indonesia, baru separuh dari penderita diabetes yang menyadari tentang penyakit mereka dan berobat secara teratur ke rumah sakit," ujarnya.
Guna terhindari penyakit diabetes melitus, penting untuk diketahui faktor penyebab penyakit diabetes. Prof Sidartawan menjelaskan, penyakit diabetes merupakan penyakit kelainan metabolisme yang disebabkan kurangnya hormon insulin. Hormon insulin dihasilkan oleh sekelompok sel beta di kelenjar pankreas dan sangat berperan dalam metabolisme glukosa dalam sel tubuh. Kadar glukosa yang tinggi dalam tubuh tidak bisa diserap semua dan tidak mengalami metabolisme dalam sel. Akibatnya, seseorang akan kekurangan energi, sehingga mudah lelah dan berat badan terus turun. Kadar glukosa yang berlebih tersebut dikeluarkan melalui ginjal dan dikeluarkan bersama urine. Gula memiliki sifat menarik air sehingga menyebabkan seseorang banyak mengeluarkan urine dan selalu merasa haus. Diabetes mellitus diartikan pula sebagai penyakit metabolisme yang termasuk dalam kelompok gula darah yang melebihi batas normal arau hiperglikemia (lebih dari 120 mg/dl). Karena itu DM sering disebut juga dengan penyakit gula.
Perubahan seperti minum menjadi lebih banyak, buang air kecil menjadi lebih sering, dan berat badan yang terus menurun, berlangsung cukup lama dan biasanya cenderung tidak diperhatikan, hingga seseorang pergi ke dokter dan memeriksa kadar glukosa darahnya.
Sedangkan diabetes tipe 2, hormon insulin yang dihasilan tidak cukup dan tidak dapat bekerja dengan semestinya. Sehingga, kadar gula dalam darah menjadi tinggi yang biasa disebut hiperglikemi dan terjadi gangguan metabolisme dan kerja sel-sel tubuh. "Lebih dari 90 persen kasus diabetes termasuk tipe 2 dan menunjukkan peningkatan angka kejadian," tutur Prof Sidartawan. Penatalaksanaan diabetes meliputi normalisasi kadar gula darah dan mencegah komplikasi. Lebih khusus yaitu dengan menghilangkan gejala, optimalisasi parameter metabolik, dan mengontrol berat badan. "Bagi pasien diabetes tipe 1, terapi utamanya adalah insulin. Terapi konvensional untuk pasien diabetes tipe 2 biasanya dimulai dengan anjuran perubahan gaya hidup. Selain penggunaan obat oral seperti metformin dari golongan biquanid. Terapi kombinasi berbasis metformin, sering lebih superior dibandingkan dengan terapi obat anti diabetes oral (OADO) tunggal," tuturnya.
Ia meminta kepada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap diabetes tipe 2 untuk segera mendapatkan bimbingan dan penyuluhan mengenai gaya hidup. Bila perlu mengkonsumsi obat-obatan antidiabetes oral untuk mengurangi risiko terkena diabetes, selain juga dapat menurunkan risiko akan berkembangnya penyakit jantung bagi orang-orang yang mengidap penyakit toleransi glukosa terganggu. disadur dan diedit dari situs www.dunia-wanita.com
artikel asli oleh: Adek Ratna Jameela
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Hey, friends.. these are some musics I've made. Dont hesitate to Click iLike this artist if you like them!