Blog
Ketidakhabispikiran
Renungan Bocah Ingusan | Renungan Bocah Ingusan |
|
|
|
Menjadi baik dan menjadi lemah. Menjadi tak baik namun bertahan. Bocah ingusan terheran. Jelas-jelas tulisan dua kalimat di dinding itu sulit sekali untuk Ia mengerti. Dengan bekal memori dan pengetahuan seujung kuku, ia bersikeras untuk mengerti. Yang ia miliki adalah hanya rangkuman nasihat Bunda yang tertoreh dalam di kenangan lama yang mulai usang. Nilai-nilai yang terumus terlihat seusang lembar kenangan yang kini amat rapuh. Hanya bertahan dan sekedar ada untuk memoles tindak tanduknya di hari kini yang jauh mengkilap. Tak jua Bocah ingusan mengerti. Padahal perasan memori telah mengucur deras memenuhi lorong-lorong akhlaknya. Melakukan kalimat itu selalu sukses membenturkan dirinya pada kenyataan pahit yang menendangnya mundur beberapa langkah dan membuatnya berpikir lebih dari sekali untuk melangkah lagi. Namun seperti juga waktu, yang selalu maju, Bocah Ingusan tak dapat diam apalagi mundur barang selangkah. Tapaknya terseret, luka, perih, namun tetap memilih untuk menjadi salah satunya. Terkadang sempat juga Ia tergoda untuk melakukan pilihan yang lain, namun entah apakah bisa bertahan untuk berapa lama. Kenyataan waktu tak memberinya banyak kesempatan dan jeda untuk bernapas. Sorot mata dan tudingan mengadili dan menghimpitnya, membuat seperti segalanya adalah cuma syarat. Syarat untuk berjalan. Syarat untuk terseret. Syarat untuk menjadi seseorang yang berdefinisi jelas dan dapat ditulis dalam buku hidup, lalu diterbitkan dalam dongeng waktu. Tak ada ruang untuk pahlawan. Tak ada langit untuk pejuang. Yang ada hanya torehan di dinding. Tanpa makna. Tanpa keihlasan.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|