Skip to content
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size

arievianza is here! :)

Home arrow Blog arrow Ketidakhabispikiran
Ketidakhabispikiran
Kembali Tak Habis Pikir Sesaat Sepi Cetak E-mail
Dalam sebuah penantian di ujung terjal seakan runtuh
Matikan rasa dan tidak merasa guna untuk harus berbuat apa..

Berjalan sajalah mundur, lalu kulukis kembali citra-citra samar
Tanpa warna dan tak mengenali lagi rasa-rasa yang punah

Kudengar saja nada-nada lama yang pernah kususun
Cita dan duka terjalin perlahan menjadi satu untaian

Merenungi hidup menyedihkan dari manusia yang tak pernah belajar
Kenyataan di depan mata bagaikan fiksi yang begitu saja diabaikan

Kesopanan dalam cinta tak lagi miliki nilainya di mata dunia
Mungkin tak ada lagi cinta yang selaras untuk jaman yang rakus
Mungkin tak ada lagi keindahan sejati tanpa kilau permata
Manusia tak lagi rasakan jiwa dunia yang sediakan cinta murni

Mereka begitu bangga akan pilihan sebagai simbol kedewasaan dan kemapanan
Jiwa dunia dan cinta murni apa adanya kemudian cuma dongeng yang punah

Semua tak lagi cukup, semua tak lagi sederhana
Padahal kesederhanaan adalah kedamaian... tapi tak ada yang mau.

Kesederhanaan adalah ketiadaan???
Ya, di saat kau meniadakan arti dari sesuatu..
Di saat itulah kau mulai kehilangan satu persatu makna hidup
Lalu di satu titik kau berteriak merana menyadari hidupmu kehilangan artinya.

Kesederhanaan tak lagi dapat diceritakan secara sederhana
Karena semua arti secara berabad perlahan terbolak balik

Aku tak kenal lagi dunia.
 
Renungan Bocah Ingusan Cetak E-mail
Menjadi baik dan menjadi lemah.
Menjadi tak baik namun bertahan.

Bocah ingusan terheran. Jelas-jelas tulisan dua kalimat di dinding itu sulit sekali untuk Ia mengerti.
Dengan bekal memori dan pengetahuan seujung kuku, ia bersikeras untuk mengerti.
Yang ia miliki adalah hanya rangkuman nasihat Bunda yang tertoreh dalam di kenangan lama yang mulai usang.
Nilai-nilai yang terumus terlihat seusang lembar kenangan yang kini amat rapuh.
Hanya bertahan dan sekedar ada untuk memoles tindak tanduknya di hari kini yang jauh mengkilap.

Tak jua Bocah ingusan mengerti. Padahal perasan memori telah mengucur deras memenuhi lorong-lorong akhlaknya.
Melakukan kalimat itu selalu sukses membenturkan dirinya pada kenyataan pahit yang menendangnya mundur beberapa langkah dan membuatnya berpikir lebih dari sekali untuk melangkah lagi.
Namun seperti juga waktu, yang selalu maju, Bocah Ingusan tak dapat diam apalagi mundur barang selangkah.
Tapaknya terseret, luka, perih, namun tetap memilih untuk menjadi salah satunya.

Terkadang sempat juga Ia tergoda untuk melakukan pilihan yang lain, namun entah apakah bisa bertahan untuk berapa lama.
Kenyataan waktu tak memberinya banyak kesempatan dan jeda untuk bernapas.
Sorot mata dan tudingan mengadili dan menghimpitnya, membuat seperti segalanya adalah cuma syarat.
Syarat untuk berjalan. Syarat untuk terseret. Syarat untuk menjadi seseorang yang berdefinisi jelas dan dapat ditulis dalam buku hidup, lalu diterbitkan dalam dongeng waktu.
Tak ada ruang untuk pahlawan. Tak ada langit untuk pejuang.

Yang ada hanya torehan di dinding. Tanpa makna. Tanpa keihlasan.
 
Ini Aku Cetak E-mail
"Ini aku", katanya pasti, seolah menekankan arti yang dalam untuk dibenamkan sampai tak akan dapat dicabut lagi.
"Inilah aku", lagi terucap dan memastikan itu semua terhunjam dalam-dalam.
"Beginilah Aku", kali ini sepertinya takkan ada yang bisa mencabut apa yang sudah ditancapkan sedalam itu.

"Ini aku", kali ini sepertinya arah kata lebih membalik ke dirinya sendiri. Merenung sepersekian detik, jeda, dan lalu tersadar kembali.
"Inilah aku", tidak ada lagi hunjaman dalam. Yang ada mungkin setetes kegalauan tersibak samar dari tirai-tirai riak kecil di permukaan genangan kesadaran.
"Beginilah aku", kepastian dan hunjaman yang tadinya amat pasti, kini seperti tak pernah terdeteksi keberadaannya. Mengambang tidak timbul, dan tidak tenggelam.

"Aku....", terhenti seolah kehilangan kepastian yang pernah meraja dan kokoh pembunuh ragu. Kosong sekarang dan tak lagi ada yang akan menghunjam. Kepada siapapun dan juga kepadanya.
"Aku...", hening.
"Aku...", dia tak tahu.

"Ini Aku.", kesadarannya berkata.
"Inilah aku, yang tidak tahu aku", akhirnya ia menyerah.
"Beginilah aku", ia memandang cermin untuk sekian waktu, lalu berlalu.
 
Bahagia Cetak E-mail

Satu kata sederhana dan mudah untuk diucapkan.

Aku berjalan, menoleh dan mendengar : “aku ingin bahagia”. Suara bergumam itu mengisi pendengaranku disetiap sudut dimana kuberada. Terus menerus. Seperti itu hal yang benar-benar pasti dan ada.

Semua mengatakannya. Semua yakin itu tujuan mereka diujung jalan panjang. Seperti juga aku. Aku juga sama. Aku ingin merasakan hal yang sama. Aku ingin tahu tentang apa yang digumamkan mereka.

Bahagia.

 

Pagi ini. Di waktu yang benar-benar awal. Sepertinya energi yang ada di tubuh ini menyerang otakku dan membuatnya terjaga. Membuatku terduduk di ruangan yang hampir kosong tapi cukup tidak tertata. Rasa kering di tenggorokan ini cukup menganggu, walau aku terus berusaha untuk tidak menghiraukannya. Mempedulikannya hanya akan membuat ku kehilangan setetes kebahagiaan yang langka didapat. Terjagaa tapi tidak cukup tersadar mungkin. Tapi kenyataannya, aku terbangun. Dan berpikir.

Seperti lampu neon di atas kepalaku. Aku seperti bersinar terang saat ini. Tapi juga sekaligus redup. Aku lebih seperti lampu sorot daripada sebuah cahaya omni. Fokus ke arah yang kuhadap. Kiri dan kanan mungkin terlalu banyak. Terlalu berlebihan. Paling tidak buat aku.  Sepertinya pilihan cuma itu. Terlalu sibuk dengan diri sendiri, atau terlalu sibuk dengan yang lain. Kenyataannya kedua-duanya tidak bisa memberikan perasaan yang baik untuk waktu lama. Ya, aku tau.

Rasa kecewa itu masih terasa di dada. Hati ini masih perih. Aku tahu aku tak boleh biarkan. Namun kadang, ia mendadak menguasaiku dan aku termakan. Keras kepalaku terpecah. Ternyata bisa juga. Walau aku tau kau tidak sekeras itu. Tapi dunia sepertinya memang bertugas untuk memberikan sertifikasi ketahanan terhadapnya. Untuk alasan apa dunia melakukannya? Konyol. Ujian-ujian itu hanya akan menghasilkan kehampaan buat hati yang jelas-jelas lemah dan tak punya perisai sekeras kepala. Padahal musuh hati adalah kehampaan. Sekali lagi, buat apa? Konyol. Benar-benar konyol.

Sekarang aku tau aku juga konyol. Menerawang dan berjalan dengan tatapan kosong. Berjalan-jalan tanpa melihat arah. Semoga saja tak ada ujung yang menjurang. Karena aku berjalan hanya dengan kakiku. Kepala ini sedang keras. Hati ini sedang hampa. Sedang tak dapat diharapkan. Kaki ini yang tak pernah lelah. Membiarkan tubuh ini terpa angin karena maju. Paling tidak anginnya nyaman. Mungkin angin pada saat meluncur ke jurang juga nyaman. Sayangnya rasa nyaman itu pasti terbutakan oleh rasa takut di perjalanan. Paling tidak, kamu tak akan tau kapan saat yang tepat kamu akan sampai di tujuan. Tapi, paling tidak kamu punya tujuan. Sekarang, apa sebegitu pentingkah sebuah tujuan? Haruskah ada tujuan?

Ribuan memori. Jutaan kesan. Milyaran Rindu. Dan cinta yang tak terhitung. Aku punya itu. Di dalam sini. Tapi, tahukah kau? Yang aku maksud dengan cinta? Maksud sebenarnya. Bukan definisi dalam kamus. Bukan definisi dalam puisi. Definisi yang tidak dapat ditulis bahkan oleh diriku sendiri. Definisi yang akan terjabar dengan interaksi. Dengan rasa. Bahkan rasa tak punya bentuk fisik. Jadi? Bagaimana ia akan terlihat dan terjadi? Tumpukan daging dan tulang ini tak pernah mampu mencapai itu. Dari semenjak kehadiran kita di dunia ini. Dari semenjak pertamakali tercipta. Cinta tak pernah tergambar dengan sempurna.

Begitu pula bahagia.

Apakah semua hal yang kita tau pernah begitu nyata artinya? Benda-benda kasat mata yang kita dapat pegang, apakah benar ada artinya? Ya, kamu bias liat di kamus definisi tentang benda itu. Tapi bukankah itu adalah ‘kata mereka’? Bagaimana dengan ‘kata kamu’? Apa menurutmu benda ditangan kamu? Apakah ada artinya? Samakah dengan di kamus? Ngomong-ngomong, apakah kamus pernah memberikan definisi tentang arti sebuah benda? Yang aku maksud adalah seberapa berartinya sebuah kata yang menerangkan sebuah benda? Mampukah ia melakukannya?

Relatif.. relatif.

Ketika manusia dihadapkan pada ketidakjelasan. Mereka berlindung dibalik kata relatif. “itu tergantung…” Ya, karena semua jadi mudah. Mudah dan menggantung indah. Seperti puisi yang merangkai kata-kata aneh dan berharap pembacanya – maksudku penikmatnya- akan menemukan makna dalam yang menyentuh sanubari. Padahal aku sendiri yakin sang penulis juga akan terkejut dengan apresiasi pembaca yang ternyata lebih dalam dibandingkan terhadap apa yang dirasakan penulis tersebut. Tapi sang penulis cukup berdiam menikmati kemasyuran dari interpretasi pembaca. Keindahan yang diberikan. Mungkin tidak salah juga dia menikmatinya. Kursi itu kosong. Duduk dan tidak ada yang menyalahkannya.

Ketika kata relative diangkat. Sudah dapat dipastikan semuanya akan berhenti. Waktu berhenti. Otak juga akan tak mau berpikir lebih jauh. Karena relatif adalah sakelar off. Kalian dapat mencobanya. Katakan satu hal. Bahas secara mendalam. Ketika sampai pada satu titik di mana pembahasan akan menghasilkan pendapat yang –sedikit- berbeda, kata relatif akan diangkat. Semua orang mengangguk. Berpencar dan melupakan semuanya. Mudah. Lalu… untuk apa pada awalnya semua hal dibahas jika ada kata relatif? Mungkin mulut ini hanya akan mencapai fungsi terbaiknya sebagai bagian dari system pencernaan. Tidak diragukan. Yang aku tanyakan, apakah mulut ini adalah alat input atau alat output? Jangan berpikir keras, teman. Pakai kata “relatif”. Sekarang aku tersenyum.

Jadi.

Bahagia.

Mari membahas bahagia. Aku menoleh dan aku mendengar “Bahagia itu relatif”.

Oh ya? Jika begitu, berarti sekarang aku tahu harus berhenti dimana.

Berarti kebahagiaan adalah untuk individu. Apakah ada bahagia bersama? Aku akan bilang “Mungkin kita semua perlu membicarakan tentang ini.”

Menunggu kata relative ini keluar lagi.

Melakukan File Save – Memutuskan tidak akan melakukan pengeditan karena merasa itu percuma. Memutuskan untuk menyudahi Lingkaran tanpa akhir dengan kata relatif.

See Ya! J

Blogged with the Flock Browser

Tags: ,

 
Janji yang Patah Cetak E-mail
sekali..
kupalingkan muka dan tak merasa
dua kali...
lirik kecil dan kugenggam
tiga kali...
perih kubalut dan berteriak

janji yang patah
bertakdirkah seperti itu
seperti juga kata
yang berpatah-patah

sebenar kata kah berpatah?
juga janji ikut patah?

aku pun bisu
menggenggam suatu yang kukira cahaya
jariku kelu
dayaku mengendur menggulirkannya dalam gelap

aku hanya bisa menatap.
 
Komitmen? Cetak E-mail

Jangan pernah khianati lidahmu sendiri....apalagi terhadap orang yang kamu cintai.

Komitmen adalah... melakukannya... bukan melulu mengatakannya. Sama seperti janji... komitmen adalah sesuatu untuk ditepati. Komitmen adalah yang dibuat untuk dipegang dan memberi kenyamanan dan keamanan...

Ketika kata-kata kosong mulai melebihi bukti nyata... nilai komitmen juga akan pudar.

Yup... mulailah segala kekacauan itu... dan semua bingung ap yang salah...

Selengkapnya...
 
Broken Promises Cetak E-mail

Image Malam ini sepertinya aku dipaksa terima kenyataan bahwa apa yg selama ini menurutku patut dijunjung tinggi..

Selengkapnya...
 
Genuine Cetak E-mail

Hmm... emang ada sih istilah "Nothing is Original"
But...
Coba aja deh... klo ada orang yang ngulangin kata-katamu untuk dikatakan ke orang yang lain tepat dihadapanmu seolah2 itu adalah ide dari dia sendiri...

Menyedihkan sekali... Ga bisa bikin kata-kata sendiri apa ya?

Selengkapnya...