Skip to content
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size

arievianza is here! :)

Home arrow Blog arrow Hidup Ini...
Hidup Ini...
Aku Pergi Cetak E-mail
Kisi kisi ruang hati...

Berkelebat warna warna molekmu
Terusik aku oleh bisik surgamu
Aroma itu... Aroma yang dekat dan dalam
Aku takut, tapi tetap kuhirup
Di mana aku? Di mana aku saat ini?

Hembus nafas ditelingaku sebelum kata cinta
Tombak pesona hujam hati, sakit bahagia
Suara itu... Tawa bahagia yang meluluhku
Kupapar bayangmu, walau ku tau sakit
Ada apa denganku? Ruang apa lagi ini?

Belai belai pembunuh sepi
Jari jari penopang goyah
Helai helai kasih pembungkus hati
Semua indah melintas dan jelas

Tak terasa tergores senyum
Senyum hati yang dihuni cinta

Gemuruh hujan seketika bangunkan aku..
Dingin merinding menusuk aku menggigil

Ini bukanlah Nyata!
Senyata sebuah Dusta!
Yang telah kemudian aku tau.

Tapi... pagi ini yang buta
Satu serpihan besar hatiku masih dalam belenggu
Ruang kenangan tertatah teramat dalam penuh goresan
Rantai belati lukai dan belit langkahku

Aku tak mau ini!
Aku tak mau lagi!
Jangan lagi datang datang
Pergilah kau bayang bayang
Aku tak butuh ini!
Aku tak butuh kamu!

Cukup!
Lembut dan kasihku tak ada lagi
Kepingan ini terbuang dan sendiri

Aku berdiri dan menengadah pasti
Aku robek helai bayang indahmu
Aku patahkan tombak racun pesonamu
Aku cabut dan biarlah remas menganga
Aku bakar tetes tetes sumpahmu yang palsu!

Kisi kisi ruang hati...

Kau dan kepalsuanmu tak layak lagi di sini
Kau dan ragu yang abadi tak akan punya tempat


Kau lihat...
Aku dan kemurnianku kemudian benderang
Kau, masih saja melarikan diri dari itu semua
Ingkari kedewasaan yang bebanimu dengan tanggung jawab
Berputar jemu tak berkesudahan mencari ke akhir waktu

Kisi kisi ruang hati...

Tak akan ada lagi peluk bagi sepimu
Dan juga genggam penopang limbungmu
Tak ada lagi yang akan ada untukmu
Menangkapmu saat kau jatuh
Dan yang mengasihimu seperti aku.

Aku penuh luka, tapi masih kuberdiri.
Aku tak cintai kamu. Tak lagi.

Damailah sudah.

Aku pergi.



Sabtu 21 Maret 2009, 3:17:27
 
Karma Cinta Cetak E-mail
Ketika Cinta.. hening dan menebar sepi di relung hati,
Semua berburu menggapai2 mencarinya, memujanya
Mereka tukar hidup dan harta untuk itu.

namun...
Ketika ketika Cinta sudah di hati dan tentramkan jiwa,
Semua lupa. semua takabur. semua besar kepala.

Cinta akan serta merta ditinggalkan...

Kau Sombong!

Arti Cinta tak lagi menjadi suatu yang penting.
Sekarang kau berkata itu???
Tanpa sadar kau bohongi hatimu
Kau bunuh jiwamu. Kau bunuh jiwaku.

Begitu malang nasib cinta...

Kala kau jemu. Cinta kau buang.

Dianggap hadiah gratis tak berharga yang bisa di buang semena semaunya.
Tanpa pernah bersyukur bagaimana cinta telah beri hidup pada hati.

Cinta itu ada, raihlah, rawatlah dan berterimakasihlah
Karena cinta adalah anugerah setetes Surga dari Yang Kuasa.

Namun, dia bertukar hati seperti bertukar celana!
Berikrar sumpah seperti sapaan sehari-hari
Menjadi budak jemu. Menjadi hamba rasa bosan.
Menjajakan ikrar dan tubuhnya silih berganti

Tak ada cinta yang layak untuk orang yang tak mau memberi hati dan berusaha membelanya.

Paras indahmu tak abadi.
Gemulai lenggokmu sebentar lagi beku.
Tak akan ia bisa terus lindungi busukmu.

Tunggu sampai cinta membalasmu
Ia tak akan sudi hadir buatmu lagi.
Karena kau mudah berkali-kali mengkhianatinya
Karena kau sudah tak jera-jera membuangnya

Mati. Sendiri. Dibunuh sepi.
 
nada nada dan aku Cetak E-mail

dan malam duka, membalut luka
di ruang lara, kutangkap nada...


nada nadaku menjahit duka
dari tari tarimu menyayat hati

nada nadaku hidupkan asa
dari khianat cinta cambuk derita

nada nadaku tawarkan bara
dari mulutmu jahanam berbisa


nada nadaku tegakkan aku
nada nadaku bangunkan aku

mengalir deras bersemi mimpi
mengalun indah memeluk hati

nada nadaku membunuh kamu
nada nadaku musnahkan kamu


nada nada surga selimuti aku
ambil saja neraka jadi milikmu

nada nada surga membawa anugerah cinta...
yang kaurenggut, kaubunuh, dan hampir mati

-
redup dan lagi hidup
tak akan kubiarkan mati

sujudlah wahai kamu sujud
sebelum durhaka merenggut segalamu


nada nadaku goreskan senyum di wajahku
nada nadaku, tak pernah lagi ada kamu 

 
Arra melihat Papa melihat Mama Cetak E-mail

Ruangan itu sejuk. Suasana hening dan sesekali terdengar desiran angin membelai tirai dan tanaman hias kecil yang memberi kedamaian.

Arra - gadis kecil cantik bermata bulat dan indah seperti Mama tapi kelopaknya seperti Papa. Hidung mungilnya yang tak mirip dengan yang dimiliki Papa -Thank God, kata Mama sesaat Arra masih merah dulu-. Kulitnya seperti susu tapi merona indah. Dengan jari jemari kecil sungguh lucu memainkan Barbie berwarna pink dan berambut pirang. Matanya berbinar seakan melayang dengan khayalannya dan menyatu dengan sosok boneka cantik itu.

Di balik jendela kaca yang lebar seperti tanpa bingkai, terlihat dua sosok yang lebih sering tidak digubrisnya dibanding Barbie. Barbie terlalu menyita perhatiannya.
Hingga pada suatu saat setelah sebuah desiran angin lembut mengusiknya dan mengarahkan pandangannya ke balik jendela kaca itu.

Sayup-sayup terdengar tawa kecil yang seperti saling menggoda. Dua orang itu membelakangi Arra. Terlihat Rambut panjang Mama yang lurus dan indah. Lembut bergoyang mengiringi suara bulat yang kadang berceloteh cepat. Sosok yang lain juga tertawa namun lebih rendah, Arra tau itu Papa.

Sambil diiringi suara tawa kecil dan desir angin, Arra kembali melirik Barbie nya. Kali ini jari-jarinya iseng menekan tuts piano kecil Hadiah Mama dari Hongkong. Lucu- piano kecil merah bermotif oriental dengan gambar kartun bermata sipit dan memakai peci bulat.
Arra ingat Mama membungkusnya dengan kertas merah emas dan memberikannya dengan ciuman. Dan Papa telah berhasil menuntunnya memainkan Twinkle Twinkle Li'l Star. Arra tak bosan mengulanginya dan dengan cadel mencoba menirukan Mama yang fasih menyanyikan liriknya.

Untuk sesaat, suasana berubah hening. Tawa yang bergulir tiba-tiba terhenti. Mata Arra yang bulat melirik lucu ke jendela kaca. Papa dan Mama diam.

Rambut panjang lembut itu sudah bersandar di bahu Papa. Papa menyentuhkan bibirnya dengan lembut dan dalam ke rambut lembut itu, sambil membisikkan sesuatu -Aku sayang kamu....- Arra tak mengerti artinya. Siluet dua insan kesayangannya itu menyentuhkan kening, lalu hidung mereka bersentuhan secara lucu ... bergesekan dan mereka tersenyum. Jari Mama yang putih bertaut dengan jari Papa... Kilau cincin Mama yang besar selalu menarik perhatian Arra.

Aku juga cinta kamu selamanya - Mama meraih jemari Papa dan menempelkannya di pipi.
Arra juga tidak tau apa artinya. Tapi matanya yang berbinar menggambarkan kedamaian dan kebahagiaan.

Bentuk kedamaian dari sebuah cinta abadi
Bentuk cinta yang hadir dari sebuah kesederhanaan

Arra tersenyum manis. diliriknya piano Hongkong, lalu mulai ia melantunkan Twinkle Twinkle Li'l Star..... terbata-bata tapi indah dan hening...

Papa dan Mama menoleh serempak ke dalam ruangan sejuk.
Mengamati buah hati mereka sejenak
Kemudian kembali bertatapan
"Dia punya senyummu, sayang. Punya bibirmu", kata Papa.
Mama tersenyum indah sambil melihat buah hatinya...

Papa menatapnya dan terdiam menikmati senyum terkembang yang mampu sejukkan ruang hati itu tercetak persis di bibir dua orang cinta dalam hidupnya...

Bentuk kedamaian dari sebuah cinta abadi
Bentuk cinta yang hadir dari sebuah kesederhanaan

-- ditulis untuk kamu Ketty... you are the love of my life....

 
Cemburu Hujan Cetak E-mail
Tirai deras berisik mendesis
Hembuskan dingin ke ruang kosong

Beribu-ribu mereka menderu
Jatuh dan basahi dunia sendu

Di sini, gelap dan sendiri dan terdiam dan kaku
Dikepung teriak air mengejek dengan ramainya

Di sini, sekotak ruang hampa berpintu penantian.
Di luar,
Tertawa-tawa mereka bersuara gemericik tak henti-henti.
Berputar susul-menyusul berganti yang lain
Mereka tak takut mati, jatuh bersama-sama
Tertawa sekali dan kemudian mati.
Walau selalu singkat untuk setiap tetes.
Mereka tau itu.
Maka mereka bersama.

Di sebuah titik hening seberkas kilat dan suara halilintar
Memberi kesadaran yang menyentak.
Hmm... aku tenggelam dalam lamunan?

Kulihat sekitarku, kudengar seputarku.

Tirai deras berisik mendesis
Hembuskan dingin ke ruang kosong

Beribu-ribu mereka menderu
Jatuh dan basahi dunia sendu

Di sini, gelap dan sendiri dan terdiam dan kaku
Dikepung teriak air mengejek dengan ramainya....

Masih. Tak Berubah...
 
dan, kamu ada Cetak E-mail
engkau tiada.. engkau ada

tenang gejolak samudera hati
bungkam deru ribu badai

engkau ada... engkau tiada

hening kosong teriak jiwa
meraba gelap mencari dan buta

dan surya berkejar bulan
alam berlari dan tak terhenti
aku tak punya kuasa

engkau tiada.. engkau ada
terang berselimut hangat
kekal yang tak mungkin
tapi tak lepas kugenggam abadi

engkau ada... engkau tiada
gelap dingin yang tak di-ingin
hadir dia pada waktu-waktu
namun-aku tau- ada indah bertabur bintang

dan surya terus berkejar bulan
alam berlari dan tak mungkin terhenti
aku tetap tak punya kuasa

tapi..

hei..
kamu, aku punya
dan, kamu ada

:)
 
Yang lalu bukan aku Cetak E-mail
Aku bukan bagian ataupun kelanjutan bahkan rangkuman
juga kesimpulan dari apa di lalu mu...

aku ada di sini
aku melangkah ke depan

bukan yang lama dan tidak yang sama.

lagi kau toleh ke belakang.
takkan ada lagi aku.

takkan pernah ada aku.
 
Laki-laki itu dan Dia perempuan. Cetak E-mail
Laki-laki itu berdiri di sudut jalan.
Pandangannya kerap berganti arah. Seperti mencari. Menunggu.
Tanpa mengetahui arah di mana harus melihat. Ia Menanti.
Seperti yakin Ia menatap, bayangan mendekat dan pun jelas.

Senyum yang tak jelas itu berkelebat lembut menyongsong akrab.
Menembus bayang menjadi terang dan pasti.
Dekat dan hangat tanpa ruang 'tuk ragu.
Dia Perempuan.

Kemudian bergulir, seperti wajar dan sederhana.

Sederhana yang lucu juga berarti sesuatu.
Membuat mereka merasa untuk tinggal.

Mereka tertawa. Tertawa dalam. Dalam rasa.
Membuat mereka berkata untuk tinggal.

Nyaman. Aman. Sopan. Berkesan.
Mereka memilih untuk tinggal.

Laki-laki itu dan Dia perempuan.
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 13 dari 25