|
Hidup ini
|
|
Saturday, 21 March 2009 |
Kisi kisi ruang hati...
Berkelebat warna warna molekmu
Terusik aku oleh bisik surgamu
Aroma itu... Aroma yang dekat dan dalam
Aku takut, tapi tetap kuhirup
Di mana aku? Di mana aku saat ini?
Hembus nafas ditelingaku sebelum kata cinta
Tombak pesona hujam hati, sakit bahagia
Suara itu... Tawa bahagia yang meluluhku
Kupapar bayangmu, walau ku tau sakit
Ada apa denganku? Ruang apa lagi ini?
Belai belai pembunuh sepi
Jari jari penopang goyah
Helai helai kasih pembungkus hati
Semua indah melintas dan jelas
Tak terasa tergores senyum
Senyum hati yang dihuni cinta
Gemuruh hujan seketika bangunkan aku..
Dingin merinding menusuk aku menggigil
Ini bukanlah Nyata!
Senyata sebuah Dusta!
Yang telah kemudian aku tau.
Tapi... pagi ini yang buta
Satu serpihan besar hatiku masih dalam belenggu
Ruang kenangan tertatah teramat dalam penuh goresan
Rantai belati lukai dan belit langkahku
Aku tak mau ini!
Aku tak mau lagi!
Jangan lagi datang datang
Pergilah kau bayang bayang
Aku tak butuh ini!
Aku tak butuh kamu!
Cukup!
Lembut dan kasihku tak ada lagi
Kepingan ini terbuang dan sendiri
Aku berdiri dan menengadah pasti
Aku robek helai bayang indahmu
Aku patahkan tombak racun pesonamu
Aku cabut dan biarlah remas menganga
Aku bakar tetes tetes sumpahmu yang palsu!
Kisi kisi ruang hati...
Kau dan kepalsuanmu tak layak lagi di sini
Kau dan ragu yang abadi tak akan punya tempat
Kau lihat...
Aku dan kemurnianku kemudian benderang
Kau, masih saja melarikan diri dari itu semua
Ingkari kedewasaan yang bebanimu dengan tanggung jawab
Berputar jemu tak berkesudahan mencari ke akhir waktu
Kisi kisi ruang hati...
Tak akan ada lagi peluk bagi sepimu
Dan juga genggam penopang limbungmu
Tak ada lagi yang akan ada untukmu
Menangkapmu saat kau jatuh
Dan yang mengasihimu seperti aku.
Aku penuh luka, tapi masih kuberdiri.
Aku tak cintai kamu. Tak lagi.
Damailah sudah.
Aku pergi.
Sabtu 21 Maret 2009, 3:17:27
|
|
|
Hidup ini
|
|
Saturday, 21 March 2009 |
|
dan malam duka, membalut luka
di ruang lara, kutangkap nada...
nada nadaku menjahit duka
dari tari tarimu menyayat hati
nada nadaku hidupkan asa
dari khianat cinta cambuk derita
nada nadaku tawarkan bara
dari mulutmu jahanam berbisa
nada nadaku tegakkan aku
nada nadaku bangunkan aku
mengalir deras bersemi mimpi
mengalun indah memeluk hati
nada nadaku membunuh kamu
nada nadaku musnahkan kamu
nada nada surga selimuti aku
ambil saja neraka jadi milikmu
nada nada surga membawa anugerah cinta...
yang kaurenggut, kaubunuh, dan hampir mati
-
redup dan lagi hidup
tak akan kubiarkan mati
sujudlah wahai kamu sujud
sebelum durhaka merenggut segalamu
nada nadaku goreskan senyum di wajahku
nada nadaku, tak pernah lagi ada kamu
|
|
|
Arra melihat Papa melihat Mama |
|
Hidup ini
|
|
Saturday, 07 March 2009 |
|
Ruangan itu sejuk. Suasana hening dan sesekali terdengar desiran angin
membelai tirai dan tanaman hias kecil yang memberi kedamaian.
Arra - gadis kecil cantik bermata bulat dan indah seperti Mama tapi
kelopaknya seperti Papa. Hidung mungilnya yang tak mirip dengan yang
dimiliki Papa -Thank God, kata Mama sesaat Arra masih merah dulu-.
Kulitnya seperti susu tapi merona indah. Dengan jari jemari kecil
sungguh lucu memainkan Barbie berwarna pink dan berambut pirang.
Matanya berbinar seakan melayang dengan khayalannya dan menyatu dengan
sosok boneka cantik itu.
Di balik jendela kaca yang lebar seperti tanpa bingkai, terlihat dua
sosok yang lebih sering tidak digubrisnya dibanding Barbie. Barbie
terlalu menyita perhatiannya.
Hingga pada suatu saat setelah sebuah desiran angin lembut mengusiknya dan mengarahkan pandangannya ke balik jendela kaca itu.
Sayup-sayup terdengar tawa kecil yang seperti saling menggoda. Dua
orang itu membelakangi Arra. Terlihat Rambut panjang Mama yang lurus
dan indah. Lembut bergoyang mengiringi suara bulat yang kadang
berceloteh cepat. Sosok yang lain juga tertawa namun lebih rendah, Arra
tau itu Papa.
Sambil diiringi suara tawa kecil dan desir angin, Arra kembali melirik
Barbie nya. Kali ini jari-jarinya iseng menekan tuts piano kecil Hadiah
Mama dari Hongkong. Lucu- piano kecil merah bermotif oriental dengan
gambar kartun bermata sipit dan memakai peci bulat.
Arra ingat Mama membungkusnya dengan kertas merah emas dan
memberikannya dengan ciuman. Dan Papa telah berhasil menuntunnya
memainkan Twinkle Twinkle Li'l Star. Arra tak bosan mengulanginya dan
dengan cadel mencoba menirukan Mama yang fasih menyanyikan liriknya.
Untuk sesaat, suasana berubah hening. Tawa yang bergulir tiba-tiba
terhenti. Mata Arra yang bulat melirik lucu ke jendela kaca. Papa dan
Mama diam.
Rambut panjang lembut itu sudah bersandar di bahu Papa. Papa
menyentuhkan bibirnya dengan lembut dan dalam ke rambut lembut itu,
sambil membisikkan sesuatu -Aku sayang kamu....- Arra tak mengerti
artinya. Siluet dua insan kesayangannya itu menyentuhkan kening, lalu
hidung mereka bersentuhan secara lucu ... bergesekan dan mereka
tersenyum. Jari Mama yang putih bertaut dengan jari Papa... Kilau
cincin Mama yang besar selalu menarik perhatian Arra.
Aku juga cinta kamu selamanya - Mama meraih jemari Papa dan menempelkannya di pipi.
Arra juga tidak tau apa artinya. Tapi matanya yang berbinar menggambarkan kedamaian dan kebahagiaan.
Bentuk kedamaian dari sebuah cinta abadi
Bentuk cinta yang hadir dari sebuah kesederhanaan
Arra tersenyum manis. diliriknya piano Hongkong, lalu mulai ia
melantunkan Twinkle Twinkle Li'l Star..... terbata-bata tapi indah dan
hening...
Papa dan Mama menoleh serempak ke dalam ruangan sejuk.
Mengamati buah hati mereka sejenak
Kemudian kembali bertatapan
"Dia punya senyummu, sayang. Punya bibirmu", kata Papa.
Mama tersenyum indah sambil melihat buah hatinya...
Papa menatapnya dan terdiam menikmati senyum terkembang yang mampu
sejukkan ruang hati itu tercetak persis di bibir dua orang cinta dalam
hidupnya...
Bentuk kedamaian dari sebuah cinta abadi
Bentuk cinta yang hadir dari sebuah kesederhanaan
-- ditulis untuk kamu Ketty... you are the love of my life....
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 13 dari 24 |